Cinta adalah lautan tak bertepi, laut hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah ! Langit berputar karena gelombang cinta; andah tak ada cinta dunia akan membeku
Bila bukan karena cinta bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan ?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi ruh (hewan) ?
Bagaimana ruh (hewan) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju
tak bisa terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta pada yang Maha Sempurna dan naik ke atas laksana tunas
Cinta-cinta mereka tak terdengar,
sesungguhnya adalah lagu pujian Tuhan.
Sabtu, 05 Maret 2011
Kamis, 03 Maret 2011
Jalan-jalan
Seorang kaya,memiliki segalanya. Apapun yang diinginkan selalu dapat diwujudkan. Sandang,papan,pangan hingga perlengkapan yang serba bagus dan unik serta antik dari kualitas nomer satu dengan merk yg ternama,bisa dia penuhi. Jalan-jalan keliling ke tempat-tempat indah dunia,dia lakukan sudah 7putaran. Hampir tak ada tempat indah yang belum dikunjungi. Dia berpikir,kemana lagi harus berkunjung untuk sekedar merehatkan otot,memanjakan mata atau menghirup oksigen murni kualitas nomor satu?
Suatu hari dia mengikuti pengajian. Sang kyai sedang mengkaji kitab Daqoiqul Akhbar (karya Imam Syekh AbdurRahman bin Ahmad AlQodli),bab surga. Si orang kaya tertarik sekali dengan cerita itu,akhirnya dia putuskan membeli buku tentang surga.
Dari yang dibacanya,diperoleh kesimpulan bahwa jalan nenuju surga adalah dengan beramal sholeh,perbanyak sodaqoh dan segala macam kebaikan dalam konteks hubungan vertikal (keTuhanan) maupun horizontal (kemanusiaan dan lingkungannya). Saking penasarannya dengan surga,diapun mendatangi tempat-tempat yang disebut-sebut surga dunia. Tapi semuanya pernah dia datangi,dan bukan surga yang digambarkan pak kyai.
Suatu hari dia kembali ke pengajiannya. Karena dia orang sibuk,kehadirannya dalam pengajian tidak rutin,jadi dia melewatkan beberapa bab dalam kitab tersebut. Dan pak Kyai sudah sampai pada bab bidadari,si orang kaya semakin menggebu dengan surga dan kenikmatannya.
"Kau tahu jalan cepat ke surga?" tanya orang kaya pada sekretarisnya.
"Beramal baik,maka jika mati,bisa langsung ke surga Pak."
Setelah meninggalkan beberapa surat wasiat,si orang kaya bersiap menuju surga.
"Surga...I'm coming..." si orang kaya memilih sungai untuk menuju surga,siapa tahu sampai di mata air surga,dan disambut bidadari,pikirnya.
Dan,sampailah si orang kaya dalam tempat gelap, setelah bertemu malaikat yang cukup kejam (sempat beberapa kali malaikat itu membuat tubuhnya hancur),dia termenung,
"Loh...katanya kalau berbuat baik pada 4llah dan makhlukNya,bakal masuk surga setelah mati,kok ini aku ketemu malaikat dan diremuk-remukin,terus utuh lagi,ga juga nyampe surga. Malaikat,mana surganya? Aku dah nggak sabar pengen ngelihat,jalan-jalan dan ketemu bidadari nih"
"Tunggu saja sampai hari kiamat" jawab Malaikat
"Terus ini tempat apa?"
"Ini terminalnya surga...kuburan" jawab malaikat yang satunya
"Berapa lama jemputan datang?"
"Tidak tahu,hanya Tuhan yang tahu,bisa besok,setahun,sepuluh tahun,sejuta tahun...tidak ada yang tahu."urai malaikat
Si orang kaya terpekur sendiri dalam remang cahaya kebaikannya di dalam kuburan,menunggu jemputan ke surga yang tak kunjung datang.
Suatu hari dia mengikuti pengajian. Sang kyai sedang mengkaji kitab Daqoiqul Akhbar (karya Imam Syekh AbdurRahman bin Ahmad AlQodli),bab surga. Si orang kaya tertarik sekali dengan cerita itu,akhirnya dia putuskan membeli buku tentang surga.
Dari yang dibacanya,diperoleh kesimpulan bahwa jalan nenuju surga adalah dengan beramal sholeh,perbanyak sodaqoh dan segala macam kebaikan dalam konteks hubungan vertikal (keTuhanan) maupun horizontal (kemanusiaan dan lingkungannya). Saking penasarannya dengan surga,diapun mendatangi tempat-tempat yang disebut-sebut surga dunia. Tapi semuanya pernah dia datangi,dan bukan surga yang digambarkan pak kyai.
Suatu hari dia kembali ke pengajiannya. Karena dia orang sibuk,kehadirannya dalam pengajian tidak rutin,jadi dia melewatkan beberapa bab dalam kitab tersebut. Dan pak Kyai sudah sampai pada bab bidadari,si orang kaya semakin menggebu dengan surga dan kenikmatannya.
"Kau tahu jalan cepat ke surga?" tanya orang kaya pada sekretarisnya.
"Beramal baik,maka jika mati,bisa langsung ke surga Pak."
Setelah meninggalkan beberapa surat wasiat,si orang kaya bersiap menuju surga.
"Surga...I'm coming..." si orang kaya memilih sungai untuk menuju surga,siapa tahu sampai di mata air surga,dan disambut bidadari,pikirnya.
Dan,sampailah si orang kaya dalam tempat gelap, setelah bertemu malaikat yang cukup kejam (sempat beberapa kali malaikat itu membuat tubuhnya hancur),dia termenung,
"Loh...katanya kalau berbuat baik pada 4llah dan makhlukNya,bakal masuk surga setelah mati,kok ini aku ketemu malaikat dan diremuk-remukin,terus utuh lagi,ga juga nyampe surga. Malaikat,mana surganya? Aku dah nggak sabar pengen ngelihat,jalan-jalan dan ketemu bidadari nih"
"Tunggu saja sampai hari kiamat" jawab Malaikat
"Terus ini tempat apa?"
"Ini terminalnya surga...kuburan" jawab malaikat yang satunya
"Berapa lama jemputan datang?"
"Tidak tahu,hanya Tuhan yang tahu,bisa besok,setahun,sepuluh tahun,sejuta tahun...tidak ada yang tahu."urai malaikat
Si orang kaya terpekur sendiri dalam remang cahaya kebaikannya di dalam kuburan,menunggu jemputan ke surga yang tak kunjung datang.
Senja
Senja
Mengapa saat senja datang
Selalu resah menyambangi jiwa
Warna jingga itu menusuk hati
Mengiris serpihan asa
Akankah aku hidup
esok
Menemui senja ini
Lagi
Mengapa saat senja datang
Selalu resah menyambangi jiwa
Warna jingga itu menusuk hati
Mengiris serpihan asa
Akankah aku hidup
esok
Menemui senja ini
Lagi
Jumat, 26 November 2010
Don't Care
Maka aku akan kembali bersikap tak peduli,
menyatu dalam semilir hembusan angin,
menangkap desahan pohon-pohon padi,
menikmati gunung yang terbingkai dalam jendela kantorku...
:-) ;-) ...peace...
menyatu dalam semilir hembusan angin,
menangkap desahan pohon-pohon padi,
menikmati gunung yang terbingkai dalam jendela kantorku...
:-) ;-) ...peace...
Selasa, 21 September 2010
kehilangan
Terduduk di dahan pohon
begitu rindang ,
sejuk..
Tampak air menetes darinya
setitik demi setitik,,..
dan semakin deras
tampak mengalir ...
Bukan dari hujan yang turun dari langit
Tapi dari sepotong ranting kecil
yang rapuh dalam pohon yang kokoh
begitu rindang ,
sejuk..
Tampak air menetes darinya
setitik demi setitik,,..
dan semakin deras
tampak mengalir ...
Bukan dari hujan yang turun dari langit
Tapi dari sepotong ranting kecil
yang rapuh dalam pohon yang kokoh
Sabtu, 21 Agustus 2010
Bapak
Rindu ini tak mengurangi keikhlasanku
tiada penyesalan menyertai
Rindu ini menyertakan doa untukmu
menyampaikan rasa terimakasihmu
Rindu ini menghantarkan maafku
meski tak banyak waktumu bersama ku
bersama kami,
tapi bahagia kami, karena deritamu juga.
Bapak...
Kami selalu merindukanmu.
tiada penyesalan menyertai
Rindu ini menyertakan doa untukmu
menyampaikan rasa terimakasihmu
Rindu ini menghantarkan maafku
meski tak banyak waktumu bersama ku
bersama kami,
tapi bahagia kami, karena deritamu juga.
Bapak...
Kami selalu merindukanmu.
Jumat, 30 Oktober 2009
MENCONTEK???..Owh No..
Budaya mencontek di kalangan pelajar sudah sangat menghawatirkan bagi nasib tunas bangsa ini. mencontek membuat siswa tidak mau berpikir dan belajar. Pengawas atau guru yang di depan tidak lagi digubris oleh mereka. Ketika ulangan ataupun ujian, mereka mencontek dengan berbagai cara, membuka buku langsung, mencatat di meja, membuat catatan kecil, mencatat pada alat-alat tulis dan kelengkapan ujian atau apapun. jika ketahuan, mereka hanya tersenyum, bahkan ada yang menantang guru. Sudah separah itukah budi pekerti siswa sekarang?...bahaya mencontek bukan hanya membohongi diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki, tapi juga bisa berlanjut pada penipuan, membodohi bangsa ini, karena tidak ada lagi siswa (yang merupakan tunas bangsa) mengingat ilmu-ilmu yang diperolehnya, tetapi bergantung pada buku, bergantung pada orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)